Aliran Penjualan
Aliran penjualan pada ternak bibit ini berbeda saat penjualan pedet dan bakalan. Jalur penjualan pada bibit ialah dilakukan pada pasar hewan. Untuk penjualan bibit ini dapat dilakukan oleh penjual dan pembeli maupun antara penjual dan pembeli namun dengan perantara blantik. Jalur pada pedagang tetap melibatkan beberapa pihak diantaranya penjual, blantik, pembeli, kemudian supir dan kernet truk, yang bertugas untuk membawa ternak dari lokasi ternak digemukannya ternak hingga kerumah sang pembeli. Jalur pengangkutan ternak mulai dari pasar hewan kemudian diangkut menggunakan truk yang biasanya disediakan oleh sang penjual, kemudian diantar kejagal atau rumah potong hewan (RPH).
Aliran Keuangan Pada Rantai Pasokan Ternak Sapi
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pedagang melakukan pembelian ternak dengan harga Rp. 8000.000 – Rp. 9000.000 untuk pedet jantan, Rp. 6000.000 – Rp. 8000.000 untuk pedet betina, sapi bakalan didapatkan dengan harga berkisar Rp. 12.000.000 – Rp. 13.000.000 dan Rp. 16.000.000 – Rp. 19.000.000 untuk sapi dewasa yang sudah siap untuk dipotong. Terdapat perbedaan harga jual pedet pada kelompok ternak Sariwidodo, Ngadimulyo dan Majalengka yang menjual pedet dengan harga Rp.7.000.00 – Rp. 8.000.000 untuk betina dan Rp. 9000.000 – Rp. 10.000.000 untuk pedet jantan.Keuntungan yang didapatkan oleh peternak setelah proses penjualan berkisar antara Rp.500.000 – Rp. 800.00 untuk pedet, Rp. 500.000 – Rp. 1.500.000 untuk sapi bakalan dan Rp.1.500.000 – Rp. 2.000.000 untuk sapi dewasa siap untuk potong. Terdapat perbedaan dalam proses penjualan untuk sapi potong dengan bobot badan yang lebih besar yaitu dengan dilakukan penimbangan yang didapatkan harga Rp. 47.000 – Rp. 49.000/kg keuntungan yang didapatkan dari sapi jenis ini berkisar Rp. 2000.000 – Rp. 2.500.000Hastuti (2008) menyatakan bahwa margin pemasaran adalah perbedaan harga ditingkat konsumen yaitu harga yang terjadi karena perpotongan kurva permintaan primer (primary demand curve) dengan kurva penawaran turunan (derived supply curve) dengan harga ditingkat produsen yaitu harga yang terjadi karena perpotongan kurva penawaran primer (primary supply) dengan permintaan turunan (derived demand).
Aliran Informasi Pada Rantai Pasokan Ternak Sapi
Informasi yang mengalir berkaitan dengan stok sapi hidup, jumlah permintaan, harga sapi hidup, harga ternak sapi maupun informasi terkait kebijakan dan peraturan dalam tata niaga ternak sapi Aliran informasi yang ada mengalir secara vertikal dan horizontal. Pada aliran vertikal terdapat koordinasi pada mata rantai yang berbeda yaitu antara peternak, pedagang sapi, dan konsumen. Pada aliran horizontal terjadi koordinasi pada sesama anggota mata rantai. Contoh dari koordinasi horizontal yaitu adanya koordinasi antar pedagang sapi terkait stok sapi
Perbedaan Antara Rantai Pemasok Ternak Sapi
Rantai pasokan yang digunakan pada pedagang tetap dan pedangan musiman hampir sama, namun pada saat transaksi ternak, khusus untuk bibit dibawa pada rumah potong hewan terlebih dahulu sebelum sampai ketangan konsumen. Dikarenakan tujuan konsumen saat pembelian ternak khususnya bibit untuk tujuan diambil dagingnya, dan bukan untuk dipelihara kembali. Pada kelompok ternak Sariwidodo, Ngadimulyo dengan kelompok ternak Majalengka yang dimana pada kelompok ternak Sariwidodo dan Ngadimulyo terdapat anggota kelompok yang menjadi pedagang ternak musiman sedangkan di kelompok Majalengka anggota kelompoknya tidak ada yang menjadi pedagang musiman.
Implikasi Analisis Saluran Distribusi Rantai Pasokan
Bisnis pada bidang peternakan ini juga adalah suatu sistem bisnis yang di dalamnya memilikrantai pasok. Di dalam rantai pasok ada berbagai jasa perantara yang memasarkan produk yang di hasilkan dalam usaha pada peternakan ayam ini. Perantara-perantara yang ada di sebut Pedagang, yang meliputi pedagang kecil/pengecer (retailer) dan pedagang besar, kemudian ada juga perantara khusus yang meliputi: agen, makelar dan komisioner, selanjutnya juga ada eksportir, dan importer dan lembaga lainnya (Swastha, Dharmesta dan Irawan, 2012:133).
Proses rantai pasokan yang terjadi pada ayam pedaging di Peternakan Waruga Desa Lolah Kecamatan Tombariri Timur, meliputi 5 pihak yakni Peternakan – Agen – Pengusaha Daging Ayam Potong – Pasar Swalayan/ Rumah Makan – Konsumen. Permasalahan yang terjadi dalam rantai pasok pada peternakan Waruga Desa Lolah Kecamata Tombariri Timur Kabupaten Minahasa yakni mengenai pasokan bahan baku yang sering terlambat serta dalam proses ternak, jumlah bibit ayam yang di ternak tidak sesuai dengan hasil produksi ayam pedaging, karena adanya kecacatan dalam produksi ayam, masih adanya ayam yang cacat dan mati sehingga mengurangi hasil produksi.
Saluran Rantai Pasok
Keterpaduan hubungan antar bagian dalam manajemen rantai pasok produk berperan terhadap nilai pengangkutan barang, hubungan yang tidak berjalan dengan baik akan mengganggu keefektifan keseluruhan rantai pasok (Janvier 2012). Hasil kajian (Hadi 2012) tentang manajemen rantai pasok ternak dan daging sapi di Nusa Tenggara Timur diperoleh beberapa temuan bahwa penanganan terhadap komoditas ternak sapi sepanjang rantai pasok belum sesuai dengan kaidah-kaidah kesejahteraan hewan. Penerapan manajemen rantai pasok menuntut pelaku usaha industri peternakan sapi untuk dapat memenuhi kepuasan pelanggan, mengembangkan produk tepat waktu, biaya pengadaan dan penyerahan produk yang rendah, dan pengelolaam industri secara cermat dan fleksibel. Tipe struktur pengelolaan rantai pasok ternak dan daging sapi masih masuk golongan interaksi antara pembeli dan penjual menciptakan ketergantungan yang saling menguntungkan, dan memiliki aset spesifik bertingkat tinggi dimana pengelolaan dilakukan dengan menjaga reputasi, ikatan keluarga/etnik. Pola ini terjadi pada hubungan antara feedlotterdengan pejagal dan dapat juga terjadi antar dua pelaku yaitu pejagal dengan pedagang grosir dan pengecer di pasar.
Daftar Pustaka :
Rumimpunu, V.S., I.D. Palandeng, dan J.J. Pondang. 2018. Analisis Rantai Pasok Ayam Pedaging Pada Peternakan Waruga Desa Lolah Kecamatan Tombariri Timur, Kabupaten Minahasa. Jurnal EMBA. Vol. 6 (3): hal. 1688-1697.
Saptana, N. Ilham. 2017. Manajemen Rantai Pasok Komoditas Ternak dan Daging Sapi. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian. Vol. 15 (1): hal. 83-98.
Firmansyah, E.S., N.A. Setianto, dan N.N. Hidayat. 2019. Analisis Rantai Pasokan (Supply Chain) Ternak Sapi potong di Kecamatan Bawang Kabupaten Banjarnegara. Journal of Livestock and Animal Production. Vol. 2 (1): hal. 64-73.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar